Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sebelum Merubah Dunia

0 komentar

Saya pernah membaca quotes yang berbunyi “Yesterday I was clever, so i wanted to change the world. Today I am wise, I want to change my self”. Quotes yang pertama kali dicetuskan oleh Rumi ini sedikit memberikan refleksi pribadi pada diri saya, betapa banyak diantara kita yang selalu mendambakan sebuah perubahan dan tentu perubahan kearah yang lebih baik.

Tapi satu hal yang perlu dipertanyakan, mengapa diantara kita ini sangat sulit untuk memimpin sebuah perubahan kearah yang lebih baik? Bukankah sudah sering diantara kita berdemo di gedung pemerintahan menuntut ini itu? Bukankah sudah sering juga diantara kita membuat program sosial tertentu? Lantas mengapa perubahan yang diidam-idamkan itu belum terwujud juga?



Cerita tentang Seorang yang Ingin Merubah Dunia

Cerita ini pertama kali saya dapati di dinding kamar kakak saya ketika saya masih SMP, mungkin sekitar tahun 2003 atau 2004. Kurang lebih begini ceritanya….

Alkisah terdapat seorang anak muda yang bercita-cita ingin merubah dunia. Ia sudah bosan dengan segala kebobrokan dan kebodohan yang ada di dunia ini. Penjajahan, diskriminasi kemiskinan dan terorisme, semua hal buruk yang ada di dunia ini kelak akan ia berantas dengan segala macam ide dan pergerakan yang ia buat. Namun lambat laun berjalan, ide dan usahanya belum menghasilkan apa-apa. Ia pun mempersempit mimpinya dan bertekad merubah negaranya.

Negara tempat kakinya berpijak ini ternyata tidak kalah bobroknya. Kediktatoran, korupsi hingga potilik uang mewarnai keseharian negeri ini. Dengan tekadnya masih kuat ini, ia bercita-cita untuk menghapuskan segala kebobrokan negerinya ini. Tapi lambat laun berjalan usahanya yang ini pun masih belum menghasilkan apa-apa. Ia pun mempersempit mimpinya dan bertekad merubah kotanya.

Kota tempatnya tinggal selama ini pun tidak kalah bobroknya. Aparat yang mencuri uang rakyat, proyek yang tidak pernah rampung hingga nepotisme selalu menjadi isu negatif yang memenuhi tiap jengkal ruang kota. Ia sudah muak dengan itu semua dan ia pun bertekad untuk memulai sebuah perubahan di kotanya. Tapi umurnya yang sudah beranjak tua pun membuat langkahnya tidak segesit dulu lagi. Dan sekali lagi ia pun mempersempit mimpinya, dari mengubah dunia, mengubah Negara, mengubah kota dan kini saatnya ia mengubah keluarganya.

Keluarganya pun ternyata sudah terlanjur bobrok. Akibat kesibukannya mengubah dunia, keluarganya pun jarang diperhatikan. Istrinya yang selingkuh hingga anak yang menjadi pecandu, semua itu dikarenakan kurangnya perhatian dari dirinya seorang sebagai pemimpin keluarga. Diusianya yang sudah sangat senja ini sangat sulit baginya untuk membangun keharmonisan lagi dalam rumah tangganya.

Saat sejengkal saja dari kematian, ia pun tersadar bahwa sebelum mengubah dunia, sebelum mengubah Negara, sebelum mengubah kota bahkan sebelum mengubah orang di sekitar kita, terlebih dahulu kita harus mengubah diri kita sendiri.

Kepemimpinan Diri Sendiri

Dari cerita di atas dapat dipetik pelajaran bahwa segala perubahan yang ada di dunia ini sumbernya berasal dari diri kita sendiri. Sebelum membuat perubahan di dunia, kita harusnya lebih paham untuk menaklukkan diri sendiri.

Coba bayangkan jika Thomas Alva Edison tidak bisa menaklukkan kegagalan dirinya ketika sedang melakukan eksperimen bola lampu. Akankah dunia seterang hari ini? Coba bayangkan juga bagaimana jika Kolonel Sanders tidak bisa mengubah sudut pandangnya tentang bisnis restoran dan memaksakan untuk tetap membuka restorannya yang kurang laku akibat proyek jalan tol pemerintah, akahkah franchise KFC akan tersebar kemana-mana seperti hari ini? Atau sekali lagi coba bayangkan bagaimana jika Ang Lee tidak menaklukkan rasa bersalahnya dan terpaksa bekerja sebagai programmer amatir, akankah kita bisa melihat film ‘Life of Pi” yang inspiratif hari ini?

Dunia ini menawarkan banyak perubahan yang sangat menantang untuk diikuti tiap harinya. Tapi sekali lagi kita musti sadar. Sebelum kita turut serta dalam perubahan itu, terlebih dahulu kita musti mampu menaklukkan diri kita sendiri.



“Knowing yourself is the first chapter of the book named wisdom” – Self Quote


http://bagusberlian.com/sebelum-merubah-dunia/

Hubungan antara Kecerdasan Intelektual (IQ) dengan Kesuksesan Seseorang

0 komentar

Tepat setelah perang dunia pertama. Lewis Terman, seorang professor muda di Fakultas Psikologi Stanford University, bertemu dengan seorang anak laki-laki yang luar biasa bernama Henry Cowell. Cowell dibesarkan dalam kemiskinan dan kekacauan hidup. Karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya, ia berhenti bersekolah sejak usia tujuh tahun. Ia bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah sekolah yang hanya memiliki satu ruang kelas tidak jauh dari kampus Stanford dan sepanjang hari Cowell akan menyelinap pergi meninggalkan pekerjaannya dan memainkan piano sekolah. Satu hal yang patut semua orang ketahui, musik yang dimainkan oleh Henry Cowell sangatlah indah.

Bidang yang ditekuni Terman adalah pengujian kecerdasan; tes IQ standar yang digunakan jutaan orang di seluruh duniaselama lima puluh tahun berikutnya, Stanford Binet, adalah ciptaannya. Jadi Lewis Terman memutuskan untuk menguji IQ cowell. Anak ini pastilah cerdas, pikirnya, dan memang ternyata seperti yang ia duga, Henry Cowell memiliki IQ sebesar 140 yang berarti jenius. Lewis Terman benar-benar terkesan. Seberapa banyak lagi permata yang tidak terasah yang berserakan di luar sana? Pikirnya.

Ia mulai mencari-cari. Ia menemukan seorang anak perempuan yang mengenal alphabet sejak berusia Sembilan belas bulan dan seorang anak perempuan lain yang sudah membaca Dickens dan Shakespeare pada saat berusia empat tahun. Dia menemukan seorang pria muda yang dikeluarkan dari sekolah hukum hanya karena para professornya tidak percaya ada seorang yang mampu menghafalkan kalimat-kalimat panjang dari sebuah keputusan hukum.



Termites – Subjek Penelitian Psikologis Paling Terkenal dalam Sejarah

Di tahun 1921, Lewis Terman memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk mempelajari orang-orang yang memiliki bakat tinggi. Dipersenjatai dengan dana besar dari Commonwealth Foundation, ia membentuk sebuah tim pekerja lapangan dan mengirimkan mereka ke sejumlah SD di California. Para guru diminta untuk menominasikan siswanya yang paling cerdas. Anak-anak itu akan diikutsertakan dalam sebuah tes kecerdasan. Anak-anak yang mendapatkan nilai 10% tertinggi diberikan tes IQ kedua dan mereka yang mendapatkan nilai di atas 130 diberikan tes IQ ketiga lalu dari serangkaian hasil itu, Lewis Terman akan memilih mana siswa terbaik dan tercerdas diantaranya.

Pada saat Lewis Terman menyelesaikan penelitiannya, ia telah mendapatkan catatan sekitar 250.000 siswa SD sampai SMA dan mendapatkan 1.470 anak dengan IQ rata-rata di atas 140 dan yang tertinggi mencapai 200. Anak-anak jenius itulah yang dikenal sebagai “Termites”, dan mereka menjadi subjek dari sebuah penelitian psikologis yang paling terkenal dalam sejarah.

Selama sisa hidupnya, Lewis Terman mengamati berbagai subjeknya ini seperti seekor ayam betina yang mengawasi anak-anaknya. Mereka selalu diawasi dan diuji, dinilai dan dianalisis. Berbagai keberhasilan akademisnya dicatat, pernikahan mereka diikuti, berbagai penyakit dicatat, dibuat tabel kesehatan psikologisnya, dan setiap promosi dan perubahan kerja dituliskan. Lewis Terman menuliskan surat rekomendasi saat para subjeknya mencari pekerjaan atau mendaftar kuliah pasca sarjana. Dia memberikan nasihat dan bimbingan secara konsisten dan terus mencatat temuannya di dalam buku catatan tebal berwarna merah yang diberi judul Genetic Studies of Genius.

Tidak ada yang lebih penting dari seorang individu selain IQ-nya, mungkin kecuali moralnya,” ujar Terman. Dan dia meyakini bahwa pada mereka yang memiliki IQ yang sangat tinggi ini, kita dapat mencari pemimpin yang tepat dari berbagai bidang, mulai dari bisnis, ilmu pengetahuan, seni, pemerintahan, pendidikan dan organisasi sosial. Saat para subjeknya ini tumbuh besar, Lewis Terman mencatat informasi terbaru atas kemajuan mereka, menyimpan berbagai keberhasilan mereka yang luar biasa. “Hampir tidak mungkin.” Ujar Lewis Terman dengan penuh semangat, saat para subjeknya yang duduk di SMA , “membaca berita di surat kabar tentang berbagai jenis kompetisi atau aktivitas yang diikuti oleh anak-anak di California tanpa menemukan nama dari salah satu atau lebih… anggota anak berbakat yang kami miliki.” Ia mengambil contoh tulisan dari beberapa subjeknya yang berbakat seni dan meminta para kritikus literatur untuk membandingkannya dengan karya awal para pengarang terkenal. Mereka tidak bisa menemukan perbedaannya. Menurutnya, semua menunjukkan bahwa para subjeknya memiliki potensi untuk menjadi “Tokoh terpandang.” Lewis Terman meyakini bahwa kelak subjek Termitesnya ini akan menjadi kelompok elit di Amerika Serikat.

Hari ini, banyak pemikiran Lewis Terman yang mirip dengan cara kita memandang sebuah kesuksesan. Sekolah di mana pun, tanpa terkecuali di Indonesia ini, memiliki program yang ditujukan bagi mereka yang “berbakat.” Universitas terkemuka seringkali menuntut calon mahasiswa mengembil tes kecerdasann seperti SAT di Amerika Serikat atau SNMPTN di Indonesia sebagai syarat masuk. Perusahaan teknologi tinggi seperti Google, Microsoft atau mungkin perusahaan-perusahaan BUMN di Indonesia dengan berhati-hati menilai kemampuan kognitif dari calon karyawan berdasarkan keyakinan yang sama: mereka yakin kalau orang-orang yang memiliki IQ yang tinggi memiliki potensi yang paling besar.

Bila saya memiliki kekuatan supranatural dan menawarkan untuk meningkatkan IQ anda sebesar 30 poin, anda pasti akan menyambutnya dengan tangan terbuka – ya kan? Anda pasti akan mengasumsikan bahwa hal itu akan menolong anda dalam menghadapi tantangan di dunia ini. Anda pasti akan berpendapat bahwa tidak ada apapun yang bisa membuat orang itu gagal dalam hidupnya.

Apakah itu benar adanya?

Pada saat Termitesnya memasuki usia dewasa, kesalahan Lewis Terman mulai terlihat. Beberapa anak jeniusnya tumbuh besar menerbitkan buku dan artikel akademis serta sukses dalam bisnisnya. Beberapa bekerja di sektor pemerintahan dan ada dua orang yang menjadi hakim agung, seorang hakim pengadilan daerah, dua anggota legistatif nagera bagian California, dan seorang pejabat pemerintahan yang berpengaruh. Tetapi hanya beberapa jenius Termitesnya yang benar-benar di kenal secara nasional. Sebagian besar memiliki karir yang dinilai biasa-biasa saja dan cukup banyak pula yang memiliki karir yang bahkan oleh Lewis Terman dinilai sebagai kegagalan. Tidak ada satu orang pun dari kelompok jenius Lewis Terman ini yang memenangkan hadiah nobel. Dua orang anggota timnya sebenarnya menguji dua orang siswa SD yang akhirnya menjadi pemenang nobel – William Shockley dan Luis Alvarez – dan menolak keduanya. IQ mereka tidak cukup tinggi.

Dalam sebuah kritik yang cukup pedas, sosiolog Piritim Sorokin pernah menunjukkan bahwa apabila Lewis Terman menyatukan sekelompok anak-anak dengan latar belakang yang sama dengan Termites secara acak – tanpa memperdulikan nilai IQ-nya – ia akan memperoleh sekelompok orang yang melakukan berbagai hal yang sama mengesankannya dengan sekelompok orang jenius yang telah dikumpulkannya dengan susah payah itu.

Tanpa adanya imajinasi dalam standar kejeniusan,” ujar Sorokin menyimpulkan, “kelompok anak ‘berbakat’ ini sama seperti orang lain pada umumnya.”

Pada saat Lewis Terman mengeluarkan bukunya yang berjudul Genetic Studies of Genius jilid keempat, kata “jenius” sudah menghilang. “Kita telah melihat,” ujar Terman menyimpulkan, dengan nada kecewa, “bahwa kecerdasan intelektual dan keberhasilan sangat jauh hubungannya.”

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid” – Albert Einstein


Sumber : http://bagusberlian.com/hubungan-antara-kecerdasan-intelektual-iq-dengan-kesuksesan-seseorang/

Siapa yang tidak ingin menjadi Ibu seperti beliau?

0 komentar

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?
Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.
Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.
Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?
Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.


Manakah yang Lebih Bahagia?

0 komentar

Seorang petani dan istrinya berpegangan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan.
Lewatlah sebuah motor di depan mereka.

Berkatalah petani ini pada istrinya:
"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan,
tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah.

"Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan,
melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka.
Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:
"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.

"Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan,
ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:
"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai,
tidak seperti mobil kita yang sering mogok.

"Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya,
dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan,
pria kaya itu berkata dalam hatinya:
"Betapa bahagianya suami istri itu.
Mereka dengan mesranya berjalan berpegangan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini.
Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing.

"Kebahagiaan tak akan pernah kau miliki jika kau hanya melihat kebahagiaan milik orang lain,
dan selalu membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Bersyukurlah atas hidupmu supaya kau tahu di mana kebahagiaan itu berada.