Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

7 Hal yang Harusnya Disadari Ketika Berusia 20 Tahunan

0 komentar

Kita semua sudah tahu bahwa usia 20 tahunan ini adalah periode paling penting dalam menentukan masa depan kita. Apa saja yang kita pilih atau putuskan hari ini, akan berdampak jauh ke masa depan kita. Sebelumnya kita pernah belajar tentang hal-hal yang harusnya mulai dilakukan dan kesalahan yang harusnya tidak dilakukan di usia 20 tahunan.

Kali ini kita akan membahas apa saja yang harus kita sadari ketika kita mulai menginjakkan kaki di usia 20 tahunan agar usia 20 tahunan kita menjadi masa yang monumental bagi perkembangan karir kita di masa yang akan datang.



1. Ketauhilah Bahwa Otak Kita juga Bersifat Seperti Otot

Menurut Carol Dweck – salah seorang professor dari Stanford University – menjelaskan bahwa otak kita juga mempunyai sifat yang sama seperti halnya dengan otot. Jika semakin sering dilatih, tentu akan semakin berkembang. Otak yang semakin berkembang ini hanya dapat dibentuk oleh pola pikir yang disebut dengan growth mindset.

Perlu diketahui, dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Membandingkan Isi Otak Mereka yang Sukses dengan Mereka yang Gagal, dijelaskan bahwa pola pikir manusia dibagi dalam 2 macam : fixed mindset dan growth mindset. Orang dengan pola pikir fixed mindset akan menganggap bahwa kerja keras dan belajar adalah hal yang sia-sia. Mereka cenderung membanggakan prestasi masa lalu dan menganggap orang yang lebih pintar adalah saingan yang musti dimusuhi. Sedangkan orang dengan pola pikir growth mindset akan menganggap bahwa belajar dan kerja keras itu penting. Baginya masa lalu adalah yang yang telah lewat yang dapat diambil pelajarannya. Dan satu yang pasti, orang dengan pola pikir growth mindset akan berkenan belajar dari siapa saja, termasuk dari orang yang lebih pintar darinya




“We like to think of our champions and idols as superheroes who were born different from us. We don’t like to think of them as relatively ordinary people who made themselves extraordinary.” – Carol Dweck : The New Psychology of Success



2. Belajar adalah Proses Seumur Hidup

Ketika kita sudah masuk dalam dunia kerja, sering kali kita menganggap bahwa masa belajar telah usai sudah. Sudah saatnya kita tutup buku, fokus mencari uang dan mengejar prestasi karir kita. Tapi taukah anda bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar?

Mungkin contoh yang paling tepat disini adalah Albert Einstein. Ketika Einstein muda mendaftar masuk perguruan tinggi, nilainya amatlah jelek hingga hampir saja ia tidak diterima kuliah. Tapi apa yang akhirnya membuatnya sukses sebagai salah seorang ilmuan hebat abad ini?

Ketika ditanya, ia menjawab bahwa sebenarnya ia tidaklah teramat pintar, prestasi yang dicapainya dalam bidang ilmu pengetahuan selama ini dikarenakan ia telah fokus untuk mempelajari studi yang dikerjakannya lebih lama daripada orang-orang lainnya. Ketika teman-teman lainnya menganggap masa studi telah selesai setelah lulus dari bangku kuliah, Albert Einstein tetap mengembangkan apa yang telah dipelajarinya selama kuliah meski harus bertahan dengan bayaran murah ketika merintis karir di kantor paten swiss.

Bayangkan jika Albert Einsten hanya fokus pada karirnya saja di kantor paten swiss tanpa mengembangkan minatnya pada fisika, akankah ia akan menjadi manusia yang dianggap pintar pada abad ini?

Ingat! wajib belajar bukan hanya 12 tahun + 4 tahun kuliah, wajib belajar adalah seumur hidup!




“I am not that i’m so smart, it’s just that i stay with problems longer” – Albert Einstein



3. Kecerdasan Intelektual (IQ) Tidak Ada Hubungannya dengan Kesuksesan Seseorang

Selesai perang dunia pertama, seorang professor dari Stanford University bernama Lewis Terman membuat sebuah penelitian tentang hubungan antara kecerdasan intelektual dengan kesuksesan seseorang. Lebih dari 250.000 pelajar SD sampai SMA di California dan sekitarnya dilibatkan, hingga didapatlah 1.470 anak dengan IQ di atas 140 hingga 200. Anak-anak inilah yang kemudian dihipotesiskan oleh Lewis Terman akan menjadi orang yang sukses di masa depan dan akan menjadi pemimpin yang paling dikagumi diseluruh dunia.

Pada saat anak-anak tadi memasuki usia dewasa, kesalahan Lewis Terman mulai terlihat. Beberapa anak jeniusnya tumbuh besar menerbitkan buku dan artikel akademis serta sukses dalam dunia bisnis. Beberapa bekerja di sektor pemerintahan dan ada dua orang yang menjadi hakim agung, seorang hakim pengadilan daerah, dua anggota legistatif nagera bagian California, dan seorang pejabat pemerintahan yang berpengaruh. Tetapi hanya beberapa anak jeniusnya yang benar-benar di kenal secara nasional. Sebagian besar memiliki karir yang dinilai biasa-biasa saja dan cukup banyak pula yang memiliki karir yang bahkan oleh Lewis Terman dinilai sebagai kegagalan. Tidak ada satu orang pun dari kelompok jenius Lewis Terman ini yang memenangkan hadiah nobel. Dua orang anggota timnya sebenarnya menguji dua orang siswa SD yang akhirnya menjadi pemenang nobel – William Shockley dan Luis Alvarez – dan menolak keduanya. IQ mereka tidak cukup tinggi. Hal inilah yang akhirnya membuktikan bahwa kecerdasan intelektual tidak ada hubungannya dengan kesuksesan seseorang.



4. Kita Hidup Di Jaman yang Berbeda dengan Senior Kita

Apakah anda pernah merasa betapa sulitnya mengajak orang tua anda yang berusia di atas 40-an beralih dari handphone bertombol analog ke touch screen? Atau pernahkah anda merasa betapa sulitnya mengajak atasan anda berkerja dengan menggunakan evernote ataupun asana? Jika anda pernah mengalami hal ini, harusnya anda sadar bahwa hal ini adalah lumrah. Karena anda dengan orang tua atau atasan anda sedang hidup di Jaman yang berbeda. Anda adalah digital natives sedangkan mereka yang lebih tua dari anda dalah digital immigrants.

Secara singkat, Digital Natives adalah generasi yang sejak kecil telah terbiasa hidup dengan dunia yang terkoneksi lewat internet. Prinsipnya adalah “makan ngga makan asal konek”. Kebutuhan primernya ada empat selain sandang, papan, pangan plus konek. Inilah generasi yang terbiasa bergerak dengan cepat dan praktis. Walau terkadang generasi ini susah fokus pada satu hal dalam waktu yang lama.

Sedangkan Digital Immigrants adalah mereka yang berimigrasi dari era analog ke era digital. Mungkin diantara mereka baru belajar bagaimana mengirim email, berkomunikasi dengan social media atau bahkan ada juga diantara mereka yang masih baru belajar menggunakan internet. Generasi ini masih terbiasa dengan rapat lama yang membosankan, birokrasi yang ribet dan juga cara pengajaran yang cenderung kaku.



5. Kita Harus Bersyukur Karena Lahir di Indonesia Hari Ini


Soekarno pernah berkata “Berilah aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia.” Pernyataan ini sebenarnya tidak berlebihan mengingat pentingnya peran pemuda dalam mengawal banyak perubahan di dunia ini.

Menurut prediksi dari McKinsey & Co, Indonesia akan menjadi negara ekonomi terkuat nomor 6 di Dunia pada tahun 2030. Hal ini tidaklah berlebihan karena saat ini anak muda usia produktif Indonesia berjumlah sekitar 35% dari total populasi. Jumlah usia produktif yang gemuk ini pernah ditemui oleh Jepang pada tahun 1950-an, Korea Selatan tahun 1970-an dan juga Cina di tahun 1990-an. Dan pada momen tersebut anak muda usia produktifnya mampu memanfaatkannya dengan baik dengan terus berkarya sehingga tidak aneh lagi jika saat ini banyak perusahaan multinasional yang berasal dari Jepang, Korea Selatan dan Cina.

Bagaimana dengan Indonesia?

Harusnya kita sebagai pemuda mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik, melalui karya dan juga bekerja untuk kemajuan negeri ini. Perlu diketahui 35% dari total populasi Indonesia berjumlah sekitar 170 juta jiwa. Dengan 10 pemuda saja Soekarno mampu mengguncang dunia, apalagi dengan 170 juta jiwa?




“Anak muda tidak pernah menjanjikan masa lalu, karena ia hidup di masa depan” – Anies Baswedan



6. Bercita-cita Rendah Lebih Berbahaya daripada Bercita-cita Tinggi

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Setinggi Apa Kita Harus Menggantungkan Mimpi, dapat disimpulkan bahwa bercita-cita renda jauh lebih berbahaya daripada bercita-cita tinggi.

Sering sekali orang di sekitar kita berkata “Jangan bercita-cita tinggi, karena kalau jatuh akan sakit.” Tapi satu hal yang tidak mereka sadari bahwa bercita-cita rendah akan jauh lebih berbahaya daripada bercita-cita tinggi. Jika Albert Einstein memiliki cita-cita yang rendah, mungkin ia akan puas bekerja sebagai staff di kantor paten. Jika Michael Jordan memiliki cita-cita yang rendah, mungkin ia tidak akan pernah bermain basket lagi setelah di keluarkan dari tim basket SMA-nya. Dan jika The Beatles bercita-cita rendah, mungkin mereka hanya akan berakhir menjadi penyanyi cafe di Hamburg.

Bercita-cita tinggi akan membawa anda pada banyak pencapaian-pencapaian, sedangkan bercita-cita rendah tidak akan membawa anda kemana-mana.


“I can accept failure, but i can’t accept not trying” – Michael Jordan



7. Tua itu Pasti, Tapi Dewasa itu Pilihan

Banyak sekali anak muda di jaman sekarang yang mampu berkontribusi secara signifikan di dalam berbagai hal. Walaupun usia mereka masih sangat muda, tapi kedewasaan mereka dalam memimpin mampu membawa mereka dikenal oleh banyak orang. Sebagai contoh lihatlah Malala Yousafzai dinobatkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh dunia versi Majalah TIME pada tahun 2013 atau lihat juga bagaimana Mark Zuckerberg yang di usia mudanya sudah mampu memimpin sebuah perusahaan besar yang bernama facebook.

Remeber! Age is just number and mature is about character.



Mulai saat ini, anda harus menyadari hal-hal apa saja yang akan berpengaruh di usia 20 tahunan anda. Gunakan hal ini sebagai referensi hidup. Mulailah berkarya dan berusaha. Jadikan usia 20 tahunan anda sebagai periode yang monumental untuk kemajuan anda di masa yang akan datang.

A man is the product of his thoughts – what he thinks, he becomes. – Mahatma Gandhi


Sedikit Tidur, Itu Lebih Baik

0 komentar

Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama diangggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal ….

Tidur selama delapan jam setiap hari atau hampir setiap hari, sudah lama diangggap sebagai rentang waktu tidur yang ideal sebagai waktu yang diperlukan oleh tubuh manusia. Tetapi penelitian baru mengatakan, bila tidur selama itu jika dilakukan setiap hari atau hampir setiap hari, justru lebih dapat mempersingkat masa hidup. Sebuah studi yang dilakukan atas lebih dari satu juta orang yang tidur delapan jam atau lebih dalam sehari menunjukkan mereka meninggal di usia yang lebih muda dari rekan-rekan mereka yang tidur jam lebih sedikit.




Sebagaimana tidur empat jam setiap hari atau hampir setiap hari, juga kemungkinannya untuk meninggal lebih cepat. Tapi mereka yang tidur enam jam sehari, menurut penelitian dapat hidup lebih lama. Para ilmuwan di University of California, studi ini menunjukkan hubungan antara jangka waktu tidur dan tingkat kematian yang tinggi. Namun, tim peneliti belum berhasil mendapat jawaban di balik hubungan ini.

Profesor Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughborough mengatakan bahwa mereka yang berpendapat tidur lama, itu tidak benar. Kami dapat mengkonfirmasi bahwa tidur enam atau tujuh jam satu hari sudah cukup lama. Jarak waktu atau jam tidur yang dibutuhkan oleh tubuh adalah jika Anda dalam kondisi terjaga lalu merasa ingin untuk tidur di siang hari.

Keterangan Gambar :

Para ilmuwan menerangkan peran sangat penting dalam memfungsikan pikiran secara aktif melalui penelitian pada kucing. Fungsi pikiran aktif karena tidur itu akan lebih memiliki implikasi besar bagi manusia yang ingin meningkatkan kemampuan belajar dan memori mengingat mereka. Percobaan pada kucing menunjukkan peningkatan kinerja otaknya jika dia tidur dengan baik, di mana mereka menjadi lebih kuat dan lebih aktif dan bergerak. Tes dilakukan pada perubahan yang terjadi dalam otak kucing. Seekor kucing matanya ditutup selama enam jam, dan kucing lainnya dalam kondisi melihat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pikiran kucing tidur (ditutup matanya) selama enam jam mengalami perubahan aktifitas otak secara drastis dan lebih mudah beradaptasi daripada kucing yang belum tidur.

Lagi-lagi, kita ucapkan Subhanallah. Al Quran telah diturunkan di tengah masa, dimana banyak sekali utopi yang menyebutkan bahwa tidur dalam waktu lama itulah yang paling baik. Sampai datang peelitian di abad 21 yang menegaskan bahwa waktu tidur yang pendek itulah yang lebih baik untuk manusia. Bukankah ini seperti yang telah ditegaskan dalam Al Quran di banyak ayat-ayatnya saat menerangkan tentang salah satu kebiasaan orang-orang yang bertakwa:



(كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)

[الذاريات: 17-18]

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat : 17-18)

Seperti itu juga Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk tidak banyak tidur, dan mengganti apa yang telah dikurangi dari waktu tidur di malam, pada waktu siang. Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ * قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا * نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا * إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا * إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا * إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا[المزمل: 1-7]

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), angunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (QS. Al Muzzammil : 1-7)

Dalam ayat ini dijelaskan perintah untuk tidak banyak tidur di waktu malam, dan menggantikannya di waktu siang. Ini juga menegaskan apa yang telah ditemukan para peneliti saat sekarang. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa serangan jantung umumnya datang setelah pagi hari sampai terbitnya matahari. Kita jadi mengerti kenapa Nabi yang mulia itu melewati waktu paginya hingga matahari terbit, dengan berdzikir, bertasbih dan tilawah Al Quran.

Ada lagi penelitian lain yang menjelaskan bahwa bangun di tengah malam itu bermanfaat bagi kesehatan, khususnya bagi jantung. Tidur yang panjang akan merusak dan membahayakan jantung. Jantung terkadang kekurangan oksigen akibat tidur yang terlalu lama, dan karenanya para ilmuwan mengatakan: ”Bangun di malam hari, meski hanya satu kali, itu bermanfaat bagi jantung untuk memasok pasokan oksigen yang memadai dan untuk menghindari kematian mendadak.




Subhanallah. Ini juga telah dikonfirmasikan oleh Al-Quran dan Rasulullah saw, ketika ia bangun di malam hari untuk tafakkur terhadap penciptaan Allah swt, dan melakukan shalat malam.

Tidur di Siang hari, Sama Pentingnya dengan Tidur di Malam Hari

Para peneliti mengatakan tidur siang hari sebentar --yang disebut dalam Islam dengan istilah qailulah-- itu sangat berguna, sama seperti tidur di malam hari. Mereka mengatakan, bahwa dari perspektif perbaikan sikap dan perilaku, tidur siang berguna, sama sebagaimana tidur malam, terkait dengan fungsi kognitif seseorang. Sebuah tim peneliti dari Universitas Lübeck, Jerman, melakukan tes diagnostik pada 52 sukarelawan. Para sukarelawan diminta untuk tidur dalam rentang waktu tertentu, tanpa membedakan waktu siang ataupun malam. Dan hasilnya, kondisi mereka sama dan tidak berbeda.

Di sini kita diingatkan kembali ingat dengan apa yang disampaikan oleh Al Quranul Karim, untuk tidur di malam dan siang hari. hari Bahkan tidur siang sebentar itu tidak kalah pentingnya sebagaimana tidur malam.

(وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ)

”Dan di antara ayat-ayat-Nya tidur di malam hari dan siang hari.”

Ini adalah tanda keajaiban Al Qur'an sebagai kitab yang diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Karena informasi ini baru bagi para ilmuwan, bahkan mereka tidak tahu pentingnya tidur siang kecuali di abad ke dua puluh satu. Sedangkan Al Quran telah menekankan pentingnya tidur malam da siang, sebagai suatu keajaiban dan tanda kekuasaaan Allah, sejak empat belas abad lalu!

Subhanallah. Apakah setelah semua fakta ini masih ada yang mengatakan bahwa Al Quran adalah karangan manusia?




Memori Otak Lemah, Saat Seseorang Baru Saja Bangun Tidur

Para ilmuwan Universitas Harvard melakukan penelitian terkait hubungan antara memori ingatan dan tidur. Mereka menggunakan alat scan resonansi MRI fungsional magnet, hingga mereka mendapati adanya aktivitas otak di kawasan yang spesifik. Kemudian aktifitas itu bergerak ke wilayah kedua dan begitulah seterusnya bahwa otak melakukan penataan informasi, berkoordinasi, dan menyimpan informasi sehingga mudah diambil kembali setelah seseorang bangun dari tidur. Namun studi selanjutnya menunjukkan bahwa fokus otak seseorang ada pada tahap minimum ketika ia baru saja bangun tidur. Dibutuhkan waktu antara 15-30 menit untuk dapat mengembalikan kemampuan pikiran. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar seseorang segera setelah bangun tidur melakukan beberapa latihan ringan untuk memulihkan aktivitas otak.

Di sini, kita juga bisa memahami mengapa Nabi saw banyak mengingat Allah langsung setelah bangun dari tidur. Beliau kemudian berwudhu, berdo’a, lalu shalat. Jadi beliau menggunakan bagian waktunya setelah tidur untuk berdo’a dan berdzikir, sebelum melakukan aktifitas lain atau menentukan keputusan. Jika kita kaji pandangan para ilmuwan dewasa ini, mereka menegaskan bahwa memori manusia berada pada posisi terendah setelah baru saja bangun dari tidur.

Para peneliti memperingatkan dokter yang berjaga malam, juga petugas pemadam kebakaran dan pekerja di malam hari yang pekerjaannya membutuhkan pengambilan keputusan penting setelah bangun. Disarankan mereka untuk tidak mengambil keputusan atau tidak mengambil tindakan apapun sampai setelah seperempat jam setelah bangun tidur.

Itu sebabnya Allah swt berfirman:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

[الزمر: 42]

Ayat ini menjelaskan tentang pentingnya tidur dan kaitan antara tidur dengan mati. Karena itu, kita harus perhatikan kondisi tidur kita, dengan berdzikir kepada Allah swt sebelum tidur dan setelah bangun dari tidur. Bercermin pada apa yang dilakukan Rasulullah saw.

Apa Pelajaran yang Kita Petik dari Studi ini?

1. Jangan terlalu banyak tidur, dan bangunlah di saat shalat subuh. Ini akan menambah kekuatan jantung dan meningkatkan kesehatan serta menambah kegairahan untuk beraktifitas. Gantilah sebagian kekurangan tidur kita di waktu malam dengan tidur sejenak di waktu siang.

2. Manfaatkan waktu tidur kita dengan mendengarkan tilawah Al Qur'an murattal. otak akan bekerja menyimpan ayat-ayat yang dibacakan itu saat kita tidur. Ini adalah slah satu cara untuk membantu kita menghafal Kitabullah. Saya menerapkan cara ini dan saya telah mampu menghafal Al Quran tanpa kesulitan yang berarti. Alhamdulillah.

3. Hal pertama yang harus dilakukan setelah bangun langsung adalah berdo’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw,

الحمد لله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور

”Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kami dikumpulkan”

Lalu berwudhulah, shalat dan bacalah Al Quranul karim selama sekitar 15 menit minimal. Aktifitas seperti ini akan menambah kemampuan kita untuk bisa tepat mengambil keputusan penting dalam hidup.

Akhirnya, saya memohon kepada Allah swt agar mengokohkan kita di atas kebenaran ini. Menjadikan seluruh kemukjizatan ini sebagai sarana yang bisa meyakinkan hati siapapun yang ragu terhadap hakikat Islam. Agar mereka mengetahui kemuliaan agama ini. Agar mereka tahu kasih sayang yang telah dibawa Rasulullah saw.

Saya tutup artikel ini, dengan firman Allah swt:

(وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ) [الروم: 23]

--------------------

Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

www.kaheel7.com/id

7 Ciri-ciri Mereka yang Mempunyai Kecerdasan Emosional yang Tinggi

0 komentar



Akhir-akhir ini, kita semakin sadar bahwa kecerdasan emosional ini sangat penting bagi tiap individu dalam menunjang kesuksesan dan kebahagiaan mereka, baik di tempat kerja, pergaulan hingga kehidupan keluarga. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu anda dalam bersikap praktis ketika di hadapkan pada suatu permasalahan. Untuk itu, kali ini saya akan sharingkan apa saja ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Harapannya, hal ini akan menjadi referensi kita bersama untuk kehidupan kita yang lebih bermanfaat dan bahagia kedepannya.

1. Fokus pada Hal-hal yang Positif

Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar bahwa percuma saja berlarut-larut dengan masalah. Fokus pada masalah tidak akan pernah membawa solusi, sebaliknya bersikap positif dalam menyikapi masalah akan membawa anda pada solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan anda.

2. Mereka yang Berpikiran Positif akan Berkumpul dengan Mereka yang Berpikir Positif Pula

Orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan berkumpul bersama mereka yang suka mengeluh dan mengumpat. Mendengarkan keluh kesah dari mereka yang suka berpikir negatif hanya akan membawa menghabiskan energi kita pada hal yang percuma. Sebaliknya, berkumpul dengan orang yang memiliki pikiran positif dan penuh semangat akan membuat kita tertular juga. Dan inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional anda juga.

3. Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi selalu Assertive

Assertive adalah sebuah sikap tegas dalam mengemukakan suatu pendapat, tanpa harus melukai perasaan lawan bicaranya. Orang yang assertive sangat tahu betul kapan mereka harus bicara, kapan mereka harus mengemukakan suatu pendapat dan bagaimana cara yang tepat untuk memberikan sebuah solusi tanpa harus menggurui. Dan yang pasti mereka yang memiliki sikap assertive selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bicara.



4. Mereka adalah Visioner yang siap Melupakan Kegagalan di Masa Lalu

Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan dan segera melupakan kegagalan di masa lalu. Baginya kegagalan di masa lalu adalah sebuah pelajaran yang penting diambil untuk mengambil langkah yang lebih mantab di masa yang akan datang.

5. Mereka Tahu Cara Membuat Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna

Dimanapun mereka berada, apakah itu di tempat kerja, di rumah ataupun berkumpul dengan teman-teman, orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan membawa kebahagiaan bagi sesamanya. Terkadang arti bahagia bagi mereka tidak harus sebuah kekayaan. Bersyukur akan nikmat yang didapat hari ini dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya akan membuat mereka merasa bahagia dan bermakna.

6. Mereka Tahu Bagaimana Mengeluarkan Energi Mereka secara Bijak

Mereka yang dikaruniai kecerdasan emosional tinggi, tahu bagaimana memanfaatkan energi mereka dengan bijak.Mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang percuma saja. Mereka akan fokus pada tindakan-tindakan yang akan membawa manfaat bagi sesamanya.

7. Terus Belajar dan Berkembang

Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar, bahwa apa yang ia ketahui saat ini masih belumlah apa-apa. Baginya, belajar bukanlah 12 tahun wajib belajar dan 4 tahun kuliah. Wajib belajar adalah seumur hidup. Mereka selalu terbuka akan hal-hal baru dan berani mencoba berbagai macam tantangan yang akan membuat mereka berkembang. Kritik dan saran dari orang lain akan dijadikan sebagai referensi baru dalam mengambil langkah dan keputusan di masa yang akan datang.


“It isn’t stress that makes us fall – it;s how we respond to stressful events.” – Wayde Goodall


Sumber : http://bagusberlian.com/

5 Kebiasaan yang Selamanya Akan Membuatmu Jadi Amatir

0 komentar


1. Selalu Berkata “Nanti”Selalu berkata “nanti”

Ini adalah kebiasaan yang sangat umum kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Menunda dan berkata nanti seakan jadi musuh yang amat sulit dihindari. Saat ada tugas kuliah atau pekerjaan, kita masih sering bilang:


“Aaaaaaah, nanti aja deh. Gampang!”

Kemudian buka twitter, Facebook, Instagram, Path, nonton serial. Menunda hal yang perlu dilakukan, dan menenggalamkan diri pada distraksi lain.

Padahal, menghargai waktu adalah kualitas yang selalu dimiliki oleh pribadi sukses dimanapun. Orang-orang sukses tidak akan menunda pekerjaan demi memenuhi keinginan yang bisa dilakukan di lain waktu. Mereka memahami bahwa waktu adalah komoditas mahal yang tidak akan terganti dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.




2. Beralasan “Mood-ku Belum Datang. Aku Tidak Bisa Bekerja.”


Beralasan mood belum datang via th07.deviantart.net

Tidak selamanya kita bisa berangkat ke tempat aktivitas dengan perasaan yang baik. Terkadang rasa malas dan enggan menggelayuti, menahan kita untuk bangkit dari tempat tidur demi memberikan yang terbaik di hari tersebut. Naik-turunnya mood adalah hal yang amat manusiawi, namun mereka yang akan sukses tidak akan berlindung di balik alasan ini.

Terlepas dari bagaimana perasaan dan kondisi pribadi mereka, calon orang sukses akan selalu berusaha profesional. Ia mampu memisahkan urusan privat dan urusan pekerjaan. Mereka tidak akan mengorbankan kehidupan profesionalnya saat keruntuhan kehidupan pribadi melanda. Mood naik-turun itu pasti, namun mereka sudah mengerti bagaimana hal tersebut harus dihadapi.




3. Selalu Menyalahkan Orang Lain Saat Menghadapi Kegagalan


Ia yang profesional berani bertanggung jawab via www.hipwee.com

Dia yang akan selamanya jadi amatir adalah ia yang enggan bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat sendiri. Baginya lebih mudah menyalahkan orang lain, membuat dirinya selalu tampak benar. Kesuksesan membutuhkan keberanian untuk menghadapi kegagalan. Hal ini dapat dicapai jika seseorang mau jujur pada dirinya sendiri.

Jika sampai sekarang kamu masih enggan mengakui kesalahanmu dan selalu mengacungkan jari menuduh orang lain, maka berhentilah. Cobalah mulai jujur pada diri dan kesalahanmu sendiri. Terima dan akui kesalahan tersebut, lalu carilah upaya untuk memperbaiki keadaan.




4. Enggan Mendengar Masukan Orang Lain, Merasa Jumawa Atas Kemampuan Sendiri


Jumawa atas kemampuan diri sendiri via books0977.tumblr.com

Keberhasilan seseorang ditentukan dari kemauannya untuk terus belajar. Saat kamu berhenti memperkaya diri, maka kesuksesanmu juga akan terhenti disitu. Mereka yang profesional adalah mereka yang mau membuka diri untuk menerima pengalaman dan pelajaran baru. Tanpa memandang pengetahuan itu datang dari siapa dan bagaimana caranya, satu yang terpenting: mereka tidak pernah menutup diri atas pelajaran-pelajaran baru.

Sementara ia yang amatir akan merasa malas belajar hal baru. Jangankan membuka diri untuk memperlajari hal bari. Mereka sudah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Bahkan mereka juga tidak segan untuk “merasa paling”.

Paling pintar, paling keren, paling oke. Saat dikritik, mereka juga enggan mendengarkan karena sudah merasa tak ada tandingannya. Duh, kalau kamu masih punya kebiasaan macam ini segera hapus deh agar label profesional segera datang padamu.




5. Merasa Punya Tanggung Jawab Untuk Memuaskan Semua Orang


You can not please everyone via books0977.tumblr.com

Demi menjadi profesional terkadang kamu perlu menutup telinga terhadap segala cemoohan yang berputar di sekelilingmu. Kamu perlu mempercayai instingmu dan terus berjalan. Perasaan takut akan kritik, takut dijauhi dan memikirkan pendapat orang lain secara berlebihan tidak akan membawamu kemana-mana.

Seberhasil apapun seseorang dia tidak akan pernah mampu membahagiakan semua orang di sekelilingnya. Pro dan kontra terhadap hasil karyamu adalah hal yang tidak terhindarkan. Kalau kamu memang sungguh-sungguh ingin profesional, beranikanlah dirimu untuk menghadapi gempuran kritik di luar sana. Lupakan keinginan untuk membuat semua orang bahagia. Fokuskan perhatianmu pada masukan orang-orang terdekat, dan teruslah berusaha.


Sumber : hipwee

12 Cara Agar Kamu Tidak Lagi Jadi Orang yang Suka Menunda Pekerjaan

1 komentar


1. Jangan Pernah Bekerja Tanpa Prioritas


Selalu buat prioritas bagi pekerjaanmu via saatchixgrads.tumblr.com

Menurut Jim Stone, seorang penulis buku mengenai produktivitas, penyebab paling umum dari kebiasaan menunda pekerjaan adalah absennya tujuan yang jelas dari aktivitas seseorang. Dia tidak tahu apa yang akan dan mampu dihasilkan dari pekerjaan yang sedang dilakukannya, serta apa dampak dari pekerjaan tersebut untuk orang lain.

Kebingungan macam ini akan membuat orang malas untuk memulai sebuah tugas. Untuk menanggulangi ini, biasakan untuk membuat prioritas dari pekerjaan yang harus kamu selesaikan pada hari itu. Urutkan dari yang paling sulit atau paling penting. Kemudian, mulailah dari tugas yang berada di urutan prioritas teratas. Dengan cara ini, kamu akan lebih punya motivasi untuk menyelesaikan tugas.

Saran lain datang dari Tim Ferris. Dalam laman pribadinya dia menyarankan agar setiap orang membuat daftar pekerjaan yang mencantumkan 1 tugas yang HARUS diselesaikan dalam hari tersebut. Kepuasan saat berhasil menyelesaikan sebuah tugas akan membuatmu punya semangat untuk melanjutkan ke tugas lainnya.




2. Kosongkan Pikiranmu Dari Informasi yang Terlalu Banyak


Terlalu banyak informasi bisa membuatmu kehilangan fokus via www.heartcityvintage.com

Ketika kamu mulai duduk di depan meja kerja, membuka e-mail, Twitter, Facebook dan website lain terkait pekerjaan — saat itu juga akan ada gempuran informasi yang masuk ke otakmu. Terkadang kamu akan kebingungan memilih informasi mana dulu yang harus dicerna.

Kebanyakan orang akan mengalihkan perhatiannya ke hal yang paling mudah. Dampaknya, pekerjaan terpenting hari itu sering tidak bisa diselesaikan. Demi menghindari gempuran informasi yang membingungkan, cobalah selalu pilah informasi tersebut jadi 3 bagian:
Informasi yang harus kamu perhatikan saat itu juga
Informasi yang bisa diperhatikan saat kamu punya waktu luang
Informasi yang memang tidak penting

Dengan cara ini prioritasmu akan tetap terjaga. Kamu akan tetap di jalur yang tepat dalam pekerjaanmu hari itu.




3. Temukan Waktu Dan Tempat Untuk Bisa Bekerja Tanpa Gangguan, Kemudian Terapkan Teknik Pomodoro


Cari tempat dimana kamu bisa berpikir dengan tenang via www.ghoofie.com

Kamu sudah berniat fokus dan semangat mengerjakan tugas, eeh tiba-tiba rekan kerja ngajak ngobrol. Atau temanmu yang kocak mengirimimu stiker LINE yang lucu. Buyarlah konsentrasi yang sudah kamu bangun dengan susah payah. Tidak hanya niat yang harus dikuatkan, demi mencapai produktifitas kamu juga perlu menciptakan suasana yang mendukung.

Temukan tempat dan waktu dimana kamu bisa bekerja tanpa gangguan. Kemudian, cobalah terapkan teknik Pomodoro. Fokuslah mengerjakan tugasmu tanpa distraksi sedikitpun selama 25 menit. Dalam jangka waktu itu jangan biarkan fokusmu hilang. Jangan buka tab lain, jangan bicara pada rekan kerja, jangan cek ponselmu. Maksimalkan waktu tersebut untuk mengerjakan tugasmu.

Setelah waktu 25 menit itu habis, kamu bisa beristirahat selama 2-3 menit untuk menyegarkan otak. Ulangi lagi teknik Pomodoro hingga tugasmu selesai.




4. Ambil Nafas, Berusahalah Untuk Tenang Ketika Ada Tugas yang Membuatmu Stres


Relaks Bro, chill aja! via telusinternational-europe.com

Ketika kamu menghadapi tugas sulit yang membuatmu panik dan stres, akan ada kemungkinan lebih besar bagimu untuk menghidari tugas tersebut. Contohnya saja, tiba-tiba kamu ditunjuk untuk jadi penanggung jawab sebuah proyek yang melibatkan klien yang banyak menuntut. Di otakmu langsung terbayang bagaimana harimu akan dipenuhi teror dari klien itu.

Kamu langsung lemas membayangkan kerjasama yang penuh permintaan dan tekanan. Nah, hal seperti ini nih yang bisa membuatmu makin enggan memulai mengerjakan proyek itu. Tarik nafas, ambil waktu sejenak untuk tenang. Cobalah untuk mengerjakan apa yang harus kamu kerjakaan saat itu. Singkirkan dulu berbagai pikiran buruk dalam pikiranmu.




5. Cobalah Untuk Selalu Mencari Tantangan


Selalu temukan tantangan dalam pekerjaanmu via blog.villagegoldsmiths.com

Bukan hanya tugas yang sulit dan bikin stres yang bisa membuatmu ingin menundanya. Tugas yang terlalu mudah juga bisa jadi tugas yang menggoda untuk ditunda. “Udah ah, ngerjainnya nanti aja. Gampang ini, kok!” mungkin begitu pikirmu. Dampaknya, kamu akan terlena untuk membuang-buang waktu hingga tiba-tiba deadline sudah ada di depan mata.

Jika kamu merasa kewajibanmu tidak menantang atau terlalu mudah, coba komunikasikan dengan bos atau rekan kerjamu. Minta mereka memberikan tugas lebih atau menggantinya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kalau kamu masih mahasiswa dan merasa tugas-tugasmu terlalu remeh, cobalah untuk meningkatkan kualitas hasil kerjamu. Selalu ada ruang untuk analisis lebih dalam dan referensi yang lebih beragam.




6. Jangan Lupa Untuk Selalu Cukup Tidur


Jangan lupa untuk cukup tidur via www.shopjawbreaking.com

Kelelahan dan pikiran yang penat karena kurang istirahat bisa membuatmu tidak fokus dalam menyelesaikan tugas. Ariana Huffington dalam bukunya yang berjudul Thrive menjelaskan betapa tidur dan istirahat yang cukup akan berdampak besar pada produktifitas seseorang:


“Kebanyakan orang takut untuk beristirahat dan tidur cukup, karena mereka mengira itu sama dengan membuang waktu mereka. Padahal dengan tidur cukup seseorang bisa lebih kompeten untuk melakukan tugas-tugasnya”.




7. Paksa Dirimu Untuk Mulai Mengerjakan Tugas


Paksa dirimu untuk membuka laptop dan mulailah bekerja via www.theverge.com

Terkadang hal tersulit bukan menyelesaikan tugas, tapi justru memulainya. Ingat kan rasa malas saat harus mulai mengerjakan sebuah paper kuliah? Tapi kemudian kamu malah menikmatinya ketika sudah ada di tengah proses. Memulai pekerjaan memang tidak pernah mudah.

Semenyebalkan dan sesulit apapun tugas yang kamu hadapi, selalu paksa dirimu untuk memulainya. Jika perlu, mulailah dari tugas yang paling mudah dulu. Kalau kamu bisa memaksa diri untuk memulainya, maka kemungkinan besar kamu juga akan bisa menyelesaikannya.




8. Hindari Distraksi Sekuat yang Kamu Mampu


Hindari distraksi yang mengganggu konsentrasi via en.paperblog.com

Kenali apa yang paling membuat konsentrasimu terganggu. Ponsel? Media sosial? Ngobrol sama teman kerja? Nah, sepanjang proses menyelesaikan tugas hindari hal-hal tersebut demi mempertahankan fokusmu. Internet terbukti jadi distraksi yang mengacaukan fokus banyak orang.

Jika pekerjaanmu tidak membutuhkan koneksi internet, ada baiknya kamu mematikan koneksi internetmu dan mulai mecoba fokus bekerja tanpa gangguan.


9. Beri Penghargaan Pada Dirimu Ketika Bisa Menyelesaikan Tugas


Hadiahi dirimu sendiri di akhir hari via blogs.chapman.edu

Penuhi hak dirimu untuk bersenang-senang setiap kamu berhasil menyelesaikan sebuah tugas. Lakukan sesuatu yang membuatmu riang dan lebih puas. Jika tidak ada orang yang menghargai hasil kerja dan usahamu, kenapa tidak mulai dari dirimu sendiri dulu?

Traktir dirimu dengan makanan enak selepas pulang meeting dengan klien yang banyak menuntut itu. Atau selepas ujian yang membuatmu harus belajar semalaman, kamu bisa bebas nonton serial televisi kesukaanmu. Rasa dihargai karena pekerjaanmu bisa membuatmu mendapatkan sesuatu yang kamu suka akan membuat pekerjaan selanjutnya lebih ringan dikerjakan.




10. Pecah Tugasmu Ke Dalam Bagian-Bagian Kecil


Pecah tugasmu ke bagian-bagian kecil via silvidesign.blogspot.com

Jika kamu merasa tugasmu terlalu sulit atau rumit, ada baiknya kamu memecah tugas tersebut ke dalam bagian-bagian kecil. Semisal nih, kamu harus membuat paper soal perkembangan agama di Inggris. Kalau kamu merasa tugas itu sangat berat, coba pecah ke beberapa bagian seperti: cari data, membuat pendahuluan, menjelaskan perkembangan agama di Inggris, menulis analisis.

Cara ini akan membuatmu punya pandangan yang lebih jelas soal hal apa saja yang harus dilakukan. Tugas yang harus kamu kerjakan jadi tidak terlalu menakutkan lagi, deh.




11. Bekerjalah Sesuai Ritme yang Kamu Suka


Kenali dirimu sendiri via davescaringe.tumblr.com

Temukan ritme kerja yang paling sesuai denganmu. Kenali dirimu sendiri. Kapan waktu yang paling produktif bagimu untuk berpikir dan bekerja? Manfaatkan waktu emas tersebut untuk menuntaskan kewajiban.

Dengan mengenal ritme kerja yang paling cocok untukmu, kamu akan lebih mudah memilih waktu dan kesempatan yang memang paling bermanfaat bagi produktivitasmu.




12. Cari Partner Untuk Bekerja Bersama


Cari rekan yang bisa diajak bekerja bersama via www.nanyangchronicle.ntu.edu.sg

Kalau kamu sedang berjuang meyelesaikan skripsi dan masih belum kelar juga karena sibuk menunda, tidak ada salahnya kamu mencari teman yang bisa diajak bekerja bersama. Bekerja sendirian bisa membuatmu selalu punya alasan untuk menunda. Nah, dengan adanya teman akan ada orang yang mengingatkan dan membuatmu malu kalau kemajuannya lebih pesat darimu.

Satu yang penting, jangan sampai temanmu itu juga punya kebiasaan menunda pekerjaan ya! Kalau kamu dan dia sama-sama penunda pekerjaan ulung ya akan sama saja.


Sumber : Hipwee